MASA
DEPAN SANITARIAN
Kemanakah lulusan
Diploma Kesehatan Lingkungan atau Sanitarian ?? Bagi Sanitarian yang baru saja
lulus, jangan bangga deh bisa lulus sanitarian, sebelum kamu bisa tau kemana
kamu akan berlabuh, di rumahkan? Menikah kah ? bersyukur deh jika kamu yang
lulus sanitarian bisa langsung kerja di CV, Indusri, Perusahaan, RS, Balai lab.
atau lulus tes CPNS (wah ajaib tuh), tapi inget AMd.KL yang kamu sandang
sekarang bener-bener Ahli Madya Kesehatan Lingkungan atau Ahli Madya Kebohongan
Lama ...
What
? ... ;-), Susahnya mencari pekerjaan
banyak lulusan sanitarian yang beralih profesi PRT (Pembantu rumah Tangga), asal
kamu tau secara tidak sadar kamu yang bejekerja di CV (badan usaha perorangan
yang bergerak di bidang sanitasi atau dsb) sudah diperalat jadi mesin pencetak
uang sedangkan majikanmu enak-enakan jalan-jalan, shoping. Sementara tenagamu
divorsir untuk melakukan aktivitas mulai dari bersih-bersih hingga masih
membuat laporan keuangan yang harus kamu lapokan ke majikanmu. Itulah gambaran
sepintas tentang kerja di badan usaha perorangan yang bergerak dibidang
sanitasi. Sengaja aku menuliskan hal-hal yang pahit agar bisa dijadikan
referensi kemana kamu akan melangkah.
Di CV majikanmu akan lebih tegas dan disiplin lagi jika
kamu membuat kesalahan, kamu bisa langsung di pecat. Di RS kamu akan menemukan
hal-hal yang berbeda mungkin kamu akan lebih dihargai karena kamu berseragam,
Ya walaupun berawal dari seragam
biru-birumu yang kusam waktu kuliah, ... tapi takapalah... toh nanti kamu akan merasakan kaum bawahan karena kamu
posisinya baru, pasti akan jadi robot. Kemanpun kamu akan melangkah akan ada remot
kontrolnya, yaitu seniormu, tapi ya siap-siap aja jika kamu malas-malasan akan
jadi bahan ejekan, gosipan bahkan hinaan hingga menyebar ke seluruh rumah
sakit. Bagaimana dengan Sanitarian PTT, Honoer atau Kontrak ? Lulus pendaftaran
seleksi PTT, Honoer , Kontrak atau sejenisnya itu rejekimu, Tapi ya, jangan
heran kalau masuknya ada yang dengan uang, jadi ya harus ekstra dong ngumpulin
duit buat nyogok tu orang di dinas kesehatan atau BKD ( Maaf ya mas, mbk, pak,
bu yang ngerasa disogok dengan uang ... hehe) ;-)
Jaman
sekarang krisis kejujuran, kemana nasib sanitarian yang merindukan lahan yang
bersih dari segala ketidakjujuran ??? Bahkan kalau kita berasal dari kalangan
bawah yang jauh dari posisi relasi sosial & politik sulit untuk menegakkan
derajat hak-hak kita. Tanpa embel-embel keturunan atau kerabat, seperti sebagai
istri, anak, atau mantu dari suatu dinasti elit nasional maupun lokal, aktor sanitarian
acap kali terdampar ke tepi panggung eksekutif.
Gimana
dengan CPNS ? sama kaya PTT, honorer, kontrak dan sejenisnya Cuma kamu harus
kenal sama orang dalem. (katanya), ada beberapa uang sebagai “pelicin”? Cuma kecil kok ... ya paling,
100-200, Paling murah 65-80 juta,
Harus jual rumah, mobil atau sawah pastinya, Ya bagi yang
punya sawah en mobil bagi yang tidak punya ?!?!?, ...;-) So yang paling penting
jangan jual diri aja deh... hehe
Gimana masih ingin jadi sanitarian? Nyesel nggak udah
masuk kuliah sanitarian, udah sampe lulus lagi! udah biaya kuliah mahal,
lulusan tetep harus mbayar, kerjaanya seperti PRT, kalo udah PNS gajinya sedikit,
gak bisa sertifikasi kaya guru lagi...hemmm jiant ;D)
Bahkan pada bulan Mei 2013 kemarin Sebelum
berangkat keluar kota untuk kerja di instansi pemerntah penulis sempet ketemu
sama kakak tingkat se-almamater di dinas tenaga kerja dan transmigrasi profinsi
DIY lulusan tahun 2007 yang notabenenya
juga sanitarian yang masih berstatus “Ngangur”
. Untuk mengurus AK atau kartu pencari kerja. berikut fotonya :
foto: sanitarian pencari AK/ kartu pencari kerja
Terus gimana solusinya biar tetep
jadi orang yang sukses?? ... Jawabnya adalah cukup dengan ikhtiar dan tawakal
kepada Allah Swt. berikut sedikit ulasanya :
Menurut salah seorang ahli motivasi, ada perbedaan antara
percaya dan mempercayakan. Percaya artinya kita yakin bahwa seseorang atau
sesuatu punya kemampuan untuk memenuhi harapan kita, namun mempercayakan punya
tingkatan yang lebih tinggi yang membuat kita bukan sekedar yakin, namun
menyerahkan diri sepenuhnya kepadanya atas apa yang kita yakini. Terkadang
dalam pengakuan, kita percaya kepada kebesaran dan kemahakuasaan Allah SWT,
namun tidak melakukan penyerahan secara total (mempercayakan) sehingga kita tetap
merasa khawatir, gentar ataupun ragu tatkala tak juga datang pertolongan-Nya.
Dalam hal ini, nampaknya yang dibutuhkan oleh anda adalah bukan sekedar percaya
kepada Allah tapi bagaimana "mempercayakan"
sepenuhnya jalannya takdir anda, setelah semua usaha dan do'a yang telah
dilakukan. Jika kita benar mengenal Allah maka kita mempercayakan hidup kita di
tangan-Nya. Karena di luar semua keterbatasan logika berpikir (kesuksesan
menjadi pegawai negri yang anda pikirkan) yang dimiliki maka seharusnya kita tahu
bahwa Allah Maha luas pengetahuannya untuk dapat menentukan yang terbaik bagi
hidup kita.
Selama memang
masih ada kesempatan maka teruslah berusaha sampai tertutup kemungkinan, karena
takdir adalah nasib akhir yang kita dapatkan setelah melakukan usaha maksimal
dan sikap kita atas hasil akhir inilah yang akan
membuktikan apakah kita "percaya"
atau “mempercayakan” hidup kita pada
Allah. Jika kita "mempercayakan"
hasil akhir kepada Allah, maka kita yakin, setelah semua doa dan usaha yang
maksimal, maka inilah yang terbaik dari-Nya meski tidak sesuai harapan dan do'a
kita.
So, jadilah
orang yang “lnovatif”, Manfaatkan
kemampuanmu supaya bisa di wujudkan dengan uang.








0 komentar:
Posting Komentar