Diberdayakan oleh Blogger.

anda pengunjung ke

RSS
Container Icon

People Centered Health Care


People Centered Health Care
            Di dalam dunia kesehatan sekarang para dokter sedang suka berbicara teori kesehatan yang diperoleh di bangku kuliah S2 atau S3, yakni teori people centered health care atau pelayanan kesehatan yang berpusat pada manusia, bukan berpusat  pada alat, obat obatan, sarana, atau yang lainya.
Yang terjadi manusia sebagai pusat eksploitasi kebijakan kesehatan. Dokter dokter di indonesia telah ditaklukan raksasa kapitalisme pedagang obat, anak pahan neoliberalisme, sehingga obat apakah yang harus diberikan pada pasien bukan berdasarkan pertimbangan penyelamatan pasien dan kesehatan manusia, tetapi bergantung pada berapa persen keuntungan yang ia peroleh bila ia merekomendasikan obat atau alat kesehatan tersebut pada pasien bersangkutan.
Lebih parah lagi korupsi di dunia kedokteran saat ini berawal dari hulu, yaitu saat masuk perguruan tinggi. Fakultas-fakultas ilmu kedokteran sadar, dengan kekuasaan regim medis seperti itu, profesi dokter menjadi impian kalangan masyarakat luas. Peminatnya membludak, menjadi dokter adalah impian. Bukan berjuang untuk bangsanya seperti yang dilakukan dokter jawa pada abad  XX, tetapi agar bisa segera menjadi bagian dari penaklukan mafia perdagangan obat. Untuk menjadi mahasiswa kedokteran masyarakat bersedia melakukan apa saja, termasuk dengan membayar mahal. Yang merisaukan, akhir-akhir ini para calon mahasiswa kedokteran tidak dipilih dari anak-anak muda dengan intelegensi terbaik, tetapi dari anak-anak muda yang orang tuanya mampu membayar mahal. Tidak peduli seperti apa prestasinya, bila punya uang 200 juta, dipastikan ia bisa masuk fakultas kedokteran. Kalaupun gagal di universitas negeri cari yang swasta banyak yang mau. Bayangkanlah, akan seperti apa nasib manusia pasien, bila kelak yang akan melayani adalah dokter-dokter goblog, yang masuk karena mampu membayar biaya kuliah mahal, bukan karena daya intelektualnya tinggi. Dipastikan dengan rendahnya standar rekruitmen mahasiswa  kedokteran, akan semakin banyak malpraktik. Boleh jadi kelak ada pasien sakit liver di beri gosok dan sakit paru-paru diberi OBH. Kalau para pengambil kebijakan kesehatan bicara soal teori muluk people centered health care, sepertinya dimulai dari jalur hulu, saat mahasiwa kuliah, bukan memotong diperjalanan, ingin membangun paradigma tapi landasan budaya yang memadai. Dengam sangat menyesal saya akan mengatakan, bahwa banyak fakultas kedokteran di negeri ini melakukan kejahatan akademik dengan menerima mahasiswa hanya dengan ketebalan kantong orang tua. sara tau persis dan tau sangat goblok tetapi karena orang tuanya bupati wakil bupati, sekda, pengusaha kaya ia dipaksakan kuliah di fakultas kedokteran. boleh jadi dokter masa depan bukan orang penyembuh tetapi seorang pembunuh.
            Dalam kondisi seperti itu, bagi masyarakat berduit dengan mudah berobat ke singapura atau china, atau rumah sakit asing di indonesia yang sekarang sangat bebas praktik di bumi indonesia, tetapi bgi masyarakat umum, mereka akan berteriak keras “Hidup mbah dukun! Hidup paranormal! dan lupakanlah dokter-dokter”. Mereka tidak dengan rasionalitas, mistik, tahayul, syirik dan cap-cap lainya, yang penting penyakit bisa sembuh jalan apapun akan ditempuh.
Belanja Obat
            Dalam era etonomi daerah bidang kesehatan merupakan urusan wajib pemerintah daerah. Oleh sebab itu, hal-hal yang menyangkut managemen, promosi kesehatan, pencegahan, pengobatan, pengelolaan rumah sakit, pengadaan dan pengelolaan sumber daya manusia, saran kesehatan, sampai pengadaan obat menjadi tanggung jawab penuh bupati/walikota.
            Kondisi ini dimanfaatkan oleh birokrasi kesehatan untuk meraup keuntungan dari belanja pengadaan pendukung pelayanan kesehatan. Hal yang harus ada adalah pengadaan obat untuk pukesmas-pukesmas, karena sudah menjadi komitmen lama pemerintah RI, bahwa pelayanan kessehatan di pukesmas tidak dipungut biaya, maka resikonya pemerintah daerah harus menyediakan obat dasar.         
            Dengan kewenangannya yang besar tersebut, posisi kepala dinas kesehatan (Dinkes) Kabupaten menjadi rebutan banyak pihak dan di dalam peta demokrasi pemda, Dinkes termasuk kategori instansi basah. Dari belanja saja sangat mengiurkan karena satu tahun bisa mencapai 2-6 milyar bergantung bagaimana meyakinkan DPRD untuk meloloskan usulan anggaran belanja obat. Pemerintah pusat masih sering memberikan bantuan obat langsung, tetapi belanja tetap dilakukan dengan alasan jenis obat dari pusat terbatas, dan daerah belanja obat yang tidak ada dalam paket bantuan pusat. Kalau toh jenis kandungannya ada, dinkes akan tetap mengusulkan untuk merk lain. yang tau kesamaan kandungan pada jenis obat tentu saja hanya para dokter atau orang-orang dinkes yang keseharianya bergelut dengan obat, sementara pejabat lainya, termasuk anggota DPRD yang bertugas menyetujui usulan anggaran.
            Fee belanja obat antara 35-45 persen. Kalau bupati tidak serakah, biasanya pasrah saja kepada kepala dinkes untuk mengaturnya, tetapi tidak sedikit bupati/walikota yang ikut ngatur fee, dengan mengundang calon pemenang untuk membuat komitmen, pos-pos mana saja yang harus dilewati dan dirawat. Tentu saja jatah bupati/walikota yang paling banyak. Fee akan menjadi besat bila penjual obat masuk lewat partai-partai politik atau pimpinan DPRD. Artinya parpol dan pimpinan DPRD harus dirawat juga. Itulah maka DPRD okey-okey saja ketika menerima ususan belanja obat karena mereka tau, tidak ada ketok palu yang gratis.
            Yang lebih mengerikan, sering gudang masih penuh obat  tahun sebelumnya dan tahun berjalan, tetapi tetap dianggarkan belanja obat, dengan alasan untuk cadangan. Kalau menjelang ada pemeriksaan, obat didrop ke pukesmas, walaupun di pukesmas masih penuh obat.  Saya tidak tau, apakah penjual obat di kaki lima  memperoleh obat dari siklus ini, atau dari mana sumbernya. Yang pasti sering kali pukesmas harus titip obat ke rumah karyawan atau penduduk, karena gudang sudah penuh obat tetapi masih di drop terus oleh kabupaten. Sementara untuk melakkukan penolakan tidak mungkin dilakukan, kecuali bila ia ingin diberhentikan dari jabatannya.
            Untuk menjamin keamana dari pengaduan  para pedagang obat, biasanya tender menggunakan konsorsium, atau pergantian setiap tahunnya, atau dibagi-bagi wilayahnya, sehingga diantara penyedia obat tidak ada saling kompetisi, yang penting tahu sama tahu, merata didaerah operasinya. Selama penyedia obat-obatan relatif tidak ribut-ribut seperti para kontraktor infrastruktur. Lebih-lebih ketika dengan keberadaan KPK sekarang ini, mereka semakin kompak, karena sadar bahwa semua pedagang obat melakukan tindak kecurangan dengan menyuap para pejabat  Kabupaten/Kota.
            Sering kali produsen atau pedagang obat untuk mendongkrak merek tertentu dengan cara menaikkan fee. Katakanlah X karena banyak dipakai maka fee nya dikecilkan, tetapi obat Y karena jarang dipakai maka fee nya dilipatkan. Celakanya, demi uang pejabat kesehatan belanja obat bukan berdasarkan kebutuhan tetapi berdasarkan  tawaran fee. Maka pernah terjadi di suatu daerah, gudang penuh tetapi pukesma teriak kekurangan obat. Usut punya usut, gudang penuh karena obat-obatan yang jarang dibutuhkan, sementara obat yang dibutuhkan malahan tidak tersedia. Perlu pemikiran, auditor BPK atau BPKP, sebagian juga seorang dokter, sehingga tahu istilah-istilah kedokteran, dan bisa mengontrol jenis belanja obat disuatu daerah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KORUPSI PELAYANAN KESEHATAN


KORUPSI PELAYANAN KESEHATAN


Pelayanan kesehatan sejak lama menjadi lahan tersubur untuk menyemai benih korupsi, baik yang melibatkan birokrasi kesehatan maupun medis dan paramedis. Dalam ilmu kebijakan publik kita kenal istilah mafia regim medis. yang tanpa  perilaku korup pun masyarakat sudah dirugikan, apalagi bila di dalam regim medis terang-terangan berlaku korup. Saat artikel ini ditulis, berbagai media massa memberitakan KPK tengah mengungkap dugaan korupsi di departemen kesehatan yang melibatkan banyak pihak dengan kerugian negara mencapai ratusan milyar rupiah.
            Sudah rahasia umum bahwa, harga obat di Indonesia termasuk yang paling mahal di dunia. Ini sebuah ironisme akut karena di negeri ini penuh dengan aneka macam tumbuhan yang menjadi bahan utama pembuatan obat obatan kimia maupun herbal. Harga obat menjadi mahal karena pabrik obat masuk dalam rimba perdagangan liberal, dengan membiayai semua ini termasuk iklan dan fee untuk dokter melalui jaringan apotik. Lebih parah lagi kalau pemilik apotik adalah dokter itu sendiri sehingga harga obat dalam memonopoli sempurna.
Di Indonesia masyaraka tidak bisa sama sekali mengontrol harga obat, Negara yang diharapkan bisa berbuat banyak untuk menekan harga obat, nyatanya seperti tidak melakukan pembelaan terhadap masyarakat. Tak pelak lagi bila banyak orang di indonesia, terang-terangan atau diam-diam lari ke pengobatan tradisional, paranormal atau entah apalah namanya, ketika tidak mampu lagi membayar biaya medis.
Di masyarakat praktik dukun-dukun  pengobatan masih sangat marak yang banyak diantaranya merupakan praktik penipuan dengan menggunakan media pijat, benda bertuah (jimat, maupun menciptakan isu bahwa penyakitnya disebabkan  oleh guna-guna, santet, kemasukan roh halus, ada setan gunung yang masuk tubuh, dsb). Di tengah masyarakat yang SDM nya rendah dan nilai-nilai kepercayaan masih kental, budaya primitif seperti itu masih tumbuh subur. Hal ini diantaranya berakar dari praktik korupsi di bidang pelayanan kesehatan yang membuat rakyat tidak pernah mampu menjangkaunya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

STP


BAB 1
PENDAHULUAN

B.     Tujuan Sewage Treatmen Plant
STP adalah suatu sistem pengolahan air limbah domestic yang modern, yang mulai dikenal dan berkembang di indonesia pada masa-masa sekarang sejalan dengan semakin meluasnya pencemaran dan kekhawatiran masyarakat terhadap dampak dari pendemaran itu serta usaha-usaha untuk pencegahanya terhadap lingkungan hodup secara dini.
Pencemaran yang disebabkan oleh polutan biologis dapat mempengaruhi kondisi air dalam 2 (dua) hal yaitu:
1.      Mikroorganisme pathogen yang memgkonsumsi materi organik, yang membutuhkan oksigen untuk proses oksidasi. hal ini dapat menyebabkan oksigen yang terdapat pada perairan tersebut semakin hari semakin berkuarang  sehingga menyebabkan kehidupan akuatic terggangu.
2.      materi organik yang terdapat didalam air buangan mengandung nutrien yang dapat mengakibatkan pertumbuhan alga atau tanaman lainya juga dapat menghilangkan oksigen dari perairan tersebut, terjadi pemotongan mata rantai dan mengubah keseimbangan yang terdapat di dalam lingkungan perairan.
Sistem  Biotor (RBT) merupakan kombinasi dua sistem pengolahan biologi secara aerob yaitu :
·         Sistim Lumpur Aktif
·         Sistem Rotating Contractor (RBC)
 
D.    Unit Biorator system
·         Primary Tank
Pertama-tama domestic yang bersumber dari gedung masuk terlebih dahulu ke dalam primary tamk. Fungsi ini adalah untuk mendaatkan kualitas air limbah yang merata sebelum diproses pada tahap berikutnya. Dalam unit ini dilengkapi dengan basketscreen & grease trap. Limbah yang masuk dari toilet dapat langsung dimasukkan ke dalam primary tank namun harus melalui basket screen yang berfungsi untuk menyaring sampah (padat) non -organik yang tidak mungkin diuraikan secara biologis, namun limbah yang bersumber dari kitcen/food  cour  dilewatkan terlebih dahulu kedalam unit greae trap untuk memisahkan lemak dari cairannya lalu kemudian secara over flow dialirkan ke primary tank. Proses yang teradi dalam primary tank adalah proses an aerobik, dengan proses tersebut kandungan BOD/COD dapat berkurang 20%-30%.
·         Rotor Disk
Pada tahap ini limbah cair yang masih tersupensi limbh organik akan diproses atau di uraikan secara biologis menggunakan bakteri aerobic. Proses pembentukan biomassa atau lumpur active (lumpur yang mengandung mikroorganisme active) terjadi melalui dua tahapan proses.
¨      Suspended Solid Growth
Yaitu pembentukan mikroorganisme (lumpur active) yang terjadi  didalam air limbah  itu sendiri, Pembentukan ini akan lebih optimal jika kandungan  oksigen terlarut (Disolved oksigen) cukup.
¨      Fixed Film Growth
Yaitu pembentukan mikroorganisme (lumpur active ) yang terjadi di dalam permukaan biomedia. Media selain berfungsi sebagai tempat tumbuh berkembang biaknya bakteri tetapi juga berfungsi sebagai bioreaktor yang menyediakan luas permukaan bidang kontak antara oksigen, Mikroorganisme  dan llimbah organik yang akan diuraikan.
Biomasa (lumpur) sebagai salah satu produksi system STP, yang dihasilkan pada tahap ini selanjutnya dipisahkan kedalam bak sedimentasi.

·         Finally Primary Tank
Biomasa atau lumpur sebagai salah satu produk STP yang masih bercampur dengan air, kemudian dipisahkan secara grafitasi pada tahap bak sedimentasi. Lumpur yang terkumpul didasar bak kemudian secara periodik disedot/dambil dengan pompa lumpur untuk kemudian dikemballikan lagi kedalam bak equaliasasi sebagian lumpur active (lumpur yang mengalami floating) dan lumpur yang mengendap akan tertampung didalam sludge holding tank.
bentuk bak sedimentasi dibuat berupalimas segi empat dengan posisi terbalik dan bagian runcingnya dipotong. Bentuk ini efektif untuk mengumpulkan lumpur yang terpisah dari cairanya sehingga memudahkan untuk diambil /dipopakan/ Sementara cairan bening yang terbebas dari lumpur secara grafitasi dialirkan kefdalam bak clorination.
·         Effluent Chamber
Cairan limbah yang telah diinjeksikan sejumlah desinfektan untuk sementara ditampung di dalam bak effluent dan selanjutnya secara periodic dengan menggunakan pompa yang diatur dengan level control  dibuang ke saluran kota. Didalam bak ini dilengkapi juga  dengan water meter ang berfungsi untuk mengetahui laju produksi/buangan air STP kesaluran kota.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Komunikasi



BAB I
PENDAHULUAN
Komunikasi atau communicaton berasal dari bahasa Latin communis yang berarti 'sama'. Communico, communicatio atau communicare yang berarti membuat sama (make to common). Dan kini komunikasi dapat di definisikan sebagai suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, seperti menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.
Secara sederhana komunikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan. Oleh sebab itu, komunikasi bergantung pada kemampuan kita untuk dapat memahami satu dengan yang lainnya.
Dalam komunikasi juga dapat terjadi proses yang umpan balik (feedback) yang dapat di artikan sebagai tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikan oleh komunikator. Dan tentunya dalam komunikasi beserta dengan segala prosesnya, terutama dalam proses feedback, pasti terdapat banyak efek yang ditimbulkan dari adanya komunikasi tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

A)  UMPAN BALIK DALAM KOMUNIKASI
Umpan balik adalah merupakan reaksi, respon atau efek yang ditimbulkan sebagai diterima atau ditolaknya suatu informasi atau pesan oleh komunikan maupun komunkator. Umpan balik tersebut karena merupakan hasil yang ditimbulkan maka dapat merubah tindakan yang akan ditimbulkan kemudian. Hal tersebut disebabkan pesan yang tidak mengerti, adanya perbedaan encoding dari makna. Perbedaan  frime of refrence, yang mengakibatkan kesalahan dalam penerimaan pesan/informasi.

Jenis-Jenis Umpan Balik :
1)      Umpan Balik Zero      : tidak ada kejelasan, komunikan bersikap dingin disebabkan pesan kurang jelas, lambang bahasa yg digunakan tidak dipahami, waktu / tempat tidak tepat → komunikasi tidak bermakna
2)      Umpan Balik Positif   : umpan balik dari komunikan dapat dimengerti komunikator. Terjadi persetujuan antara komunikan dengan komunikator
3)      Umpan Balik Netral    : tanggapan yg disampaikan oleh komunikan tidak mempunyai relevansi dengan pesan yang disampaikan.
4)      Umpan Balik Negatif  : umpan balik yg disampaikan komunikan tidak mendukung komunikator.



B)  EFEK DALAM KOMUNIKASI
a)       Efek Kognitif
Efek ini berkaitan dengan pikiran, nalar, atau rasio. Misalnya komunikasi menyebabkan orang yang semula tidak tahu menjadi tahu, yang semula tidak mengerti menjadi mengerti, atau yang semula tidak sadar menjadi sadar. Akibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya informatif bagi dirinya.
b)      Efek Afektif
Yaitu efek yang berhubungan dengan perasaan, misalnya, komunikasi menyebabkan orang yang semula merasa tidak senang menjadi senang, yang semula sedih menjadi gembira, atau yang semula merasa takut atau malu menjadi berani. Khalayak diharapkan dapat turut merasakan perasaan sedih, iba, bahagia, dan lain sebagainya setelah mendapatkan pesan dari media massa.
c)      Efek Konatif
Yaitu efek yang menimbulkan niatan untuk berperilaku tertentu, dalam arti kata melakukan suatu tindakan atau kegiatan yang bersifat fisik atau jasmaniah. Misalnya, komunikasi menyebabkan siswa yang semula malas belajar menjadi rajin, atau orang yang semula perokok menjadi tidak merokok. Ketiga efek di atas saling berhubungan satu sama lain. Efek konatif tercapai jika efek kognitif dan afektif sudah tercapai. Komunikasi akan berhasil secara efektif apabila komunikator menggunakan bahasa yang baik dan benar, dan dapat dimengerti; pemberi pesan adalah orang yang dapat dipercaya; pesan yang disampaikan adalah sesuatu yang berguna; pesan disampaikan secara jelas, menarik, dan objektif; menggunakan media atau sarana atau lambang-lambang atau ekspresi tubuh yang tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi; ada keserasian antara pemberi dan penerima pesan; dan ada lingkungan atau suasana yang cukup mendukung.
d)     Efek Behavioral
Efek behavioral merupakan akibat yang timbul pada diri khalayak dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan. Adegan kekerasan dalam televisi atau film akan menyebabkan orang menjadi beringas. Program acara memasak bersama Rudi Khaeruddin, misalnya, akan menyebabkan para ibu rumah tangga mengikuti resep-resep baru. Bahkan, kita pernah mendengar kabar seorang anak sekolah dasar yang mencontoh adegan gulat dari acara SmackDown yang mengakibatkan satu orang tewas akibat adegan gulat tersebut. Namun, dari semua informasi dari berbagai media tersebut tidak mempunyai efek yang sama.
BAB III
PENUTUP
Jadi dengan adanya feedback, komunikasi dapat berjalan lancar asalkan feedback tersebut juga diterima dengan baik oleh si penerima pesan. Tentunya, feedback tersebut juga harus mengandung kalimat-kalimat yang mudah diterima oleh si penerima pesan sehingga tidak ada hambatan dalam proses komunikasi tersebut. Bila terdapat hambatan atau hal lain terjadi dalam komunikasi, hal tersebut sangat wajar karena hal tersebut juga termasuk dalam efek komunikasi
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi
http://tiwikarim.blogspot.com/2011/05/umpan-balik-dalam-komunikasi.html
http://www.slideshare.net/lsn2012/konsep-dasarkomunikasi
Rakhmat, Jalaluddin, 2005, Psikologi Komunikasi – Edisi Revisi, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS