Diberdayakan oleh Blogger.

anda pengunjung ke

RSS
Container Icon

PROGRAM PENGENALAN STUDY DAN KAMPUS



PROGRAM PENGENALAN STUDY DAN KAMPUS

            Kampus merupakan salah satu miniatur masyarakat kecil. Di dalamnya terdapat anggota masyarakat yang cukup heterogen, mulai dari pedagang, karyawan, dosen, dan tentunya mahasiswa. Atau dari segi suku, didalam kampus tentunya tidak hanya ada satu suku yang mendiaminya, ada banyak suku. Demikian pula dari segi agama, masyarakat sebagian kampus memiliki agama yang berbeda-beda. Heterogenitas ini mengharuskan kita agar dapat berkomunikasi dengan siapa saja sesuai dengan kapasitas siapa yang kita hadapi. Dulu, alasan adanya PPS atau OSPEK diantaranya adalah untuk alasan kebersamaan dan melatih mental karena dunia mahasiswa itu berbeda. Kebersamaan disini adalah sama-sama pernah di tindas dan dipermalukan, masih banyak cara melatih mental yang lebih baik dan mendidik, tepat sasaran bukan dengan cara menyiksa dengan memukul, menendang dan memaki. Disini nampak betapa ego dan rasa ingin bekuasa, superior, senioritas, tlah tertanam dibenak genetasi penerus bangsadan semua diwujudkan dengan cara yang salah dan dengan menghalalkan segala cara.
Ospek di Indonesia sudah terlanjur dikonotasikan dengan kegiatan perpeloncoran. Di dalam sebuah ospek hampir selalu ada hukuman atau penindasan. Ospek tersebut dilakukan dengan alasan agar mahasiswa baru lebih mengenal seniornya, lebih akrab, dan sebagainya. Demikianlah ospek yang tidak mendidik kadang lebih cenderung mencerminkan gaya-gaya anarkis, dan militerisme. Sungguh kontradiksi dengan demo-demo mahasiswa yang seringkali bersuara tolak militerisme dan anarkisme. Berikut ini adalah contoh ospek dengan semangat perpeloncoran yang tidak mendidik :


foto : PPS/OSPEK yang tak mendidik
            Penilaian negatif tersebut juga tentu saja tidak bisa diluruskan dengan hanya menggunakan bahasa verbal bahwa ospek sesungguhya sangat penting untuk mengantarkan dan mengadaptasikan mahasiswa mahasiswa baru pada tradisi kehidupan kampus sehingga mereka tidak akan mengalami kesulitan yang berarti saat mengikuti proses perkuliahan kelak. Diperlukan bahasa tindakan konkret dilalapangan empirik untuk meyakinkan banyak pihak bahwa ospek merupakan kegiatan penting dan bisa membawa manfaat bagi mahasiswa baru. Mahasiswa baru juga belum mengenal civitas academika yang akan berinteraksi dengan mereka selama menenpuh pendidikan tingggi. Karena itu, mahasiswa baru memerlukan kesiapan psikologis dan sosial yang mantap sehingga dapat cepat berinteraksi dengan kampus dan proses belajar-mengajar di Perguruan Tinggi. Mereka juga perlu memahami cara mengakses pelayanan yang diberikan birokrasi kampus secara mudah dan efektif.
            Ospek yang dilakukan dalam bentuk kegiatan akademik ditegaskan dalam Surat Edaran (SE) Dirjen Dikti. Kegiatan akademik yang dimaksidkan disitu adalah kegiatan yang bersifat mendidik dan memberi manfaat, Misalnya, pengenalan kampus, pengenalan dosen staf dan tenaga pengajar lainnya. Juga pengenalan cara kuliah yang baik. Depdiknas sudah menyatakan bahwa ospek dengan semangat perpeloncoran sudah dihapus dengan SE Dirjen Dikti Nomor 5/1995.
SE itu juga mengharuskan ospek dilakukan dengan lebih lunak dan dikoordinasikan dengan dibawah pembantu rektor (Purek) III ditingkat Universitas dan Pembantu Dekan (Pudek) III ditingkat Fakultas atau Jurusan serta dibawah Pembantu Direktur (Pudir) III ditingkat Akademik.
Sebagai mahasiswa yang bermoral, kita harus memandang mahasiswa baru sebagai generasi yang harus diselamatkan, aqidahnya, ibadahnya, akhlaqnya, dan intelektualitasnya. Bagi kita, Mahasiswa baru bukanlah sebagai korban baru yang siap dikerjai. Kehadiran mereka memiliki arti positif bagi kita. Paling tidak ada beberapa point, arti pentingnya mahasiswa baru, yaitu sebagai berikut : Setiap angkatan baru bisa diibaratkan sebagai tamu yang berkunjung. Setiap tamu yang datang tentu ativitas pelayanan pada mahasiswa baru harus digiatkan. Misalnya jika mereka membutuhkan tempat kost, tunjuki tempat kost, tunjuki tempat kos yang bagus, yang kondusif untuk tempat tinggal, kondusif untuk belajar, kondusif untuk aqidahnya, ibadahnya dan akhlaqnya. Tunjuki pula mereka tempat-tempat belajar yang nyaman untuk belajar. Misalnya laboratorium, perpustakaan, acara-acara seminar yang kita adakan, dan sebagainya, dan sebagainya. Masih banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk mereka. Intinya, berikan mereka service yang menarik dan mengugah jiwa agar mereka merasa at home dan nyaman. Selain itu berikan dorongan semangat, motivasi, petunjuk, arahan dan berbagai kemudahan lainya.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar: