PROGRAM
PENGENALAN STUDY DAN KAMPUS
Kampus
merupakan salah satu miniatur masyarakat kecil. Di dalamnya terdapat anggota
masyarakat yang cukup heterogen, mulai dari pedagang, karyawan, dosen, dan
tentunya mahasiswa. Atau dari segi suku, didalam kampus tentunya tidak hanya
ada satu suku yang mendiaminya, ada banyak suku. Demikian pula dari segi agama,
masyarakat sebagian kampus memiliki agama yang berbeda-beda. Heterogenitas ini
mengharuskan kita agar dapat berkomunikasi dengan siapa saja sesuai dengan kapasitas
siapa yang kita hadapi. Dulu, alasan adanya PPS atau OSPEK diantaranya
adalah untuk alasan kebersamaan dan melatih mental karena dunia mahasiswa itu
berbeda. Kebersamaan disini adalah sama-sama pernah di tindas dan dipermalukan,
masih banyak cara melatih mental yang lebih baik dan mendidik, tepat sasaran
bukan dengan cara menyiksa dengan memukul, menendang dan memaki. Disini nampak
betapa ego dan rasa ingin bekuasa, superior, senioritas, tlah tertanam dibenak
genetasi penerus bangsadan semua diwujudkan dengan cara yang salah dan dengan menghalalkan
segala cara.
Ospek
di Indonesia sudah terlanjur dikonotasikan dengan kegiatan perpeloncoran. Di
dalam sebuah ospek hampir selalu ada hukuman atau penindasan. Ospek tersebut
dilakukan dengan alasan agar mahasiswa baru lebih mengenal seniornya, lebih
akrab, dan sebagainya. Demikianlah ospek yang tidak mendidik kadang lebih
cenderung mencerminkan gaya-gaya anarkis, dan militerisme. Sungguh kontradiksi
dengan demo-demo mahasiswa yang seringkali bersuara tolak militerisme dan
anarkisme. Berikut ini adalah contoh ospek dengan semangat perpeloncoran yang tidak mendidik :
foto : PPS/OSPEK yang tak mendidik
Penilaian
negatif tersebut juga tentu saja tidak bisa diluruskan dengan hanya menggunakan
bahasa verbal bahwa ospek sesungguhya sangat penting untuk mengantarkan dan
mengadaptasikan mahasiswa mahasiswa baru pada tradisi kehidupan kampus sehingga
mereka tidak akan mengalami kesulitan yang berarti saat mengikuti proses
perkuliahan kelak. Diperlukan bahasa tindakan konkret dilalapangan empirik
untuk meyakinkan banyak pihak bahwa ospek merupakan kegiatan penting dan bisa
membawa manfaat bagi mahasiswa baru. Mahasiswa baru juga belum mengenal civitas
academika yang akan berinteraksi dengan mereka selama menenpuh pendidikan
tingggi. Karena itu, mahasiswa baru memerlukan kesiapan psikologis dan sosial
yang mantap sehingga dapat cepat berinteraksi dengan kampus dan proses
belajar-mengajar di Perguruan Tinggi. Mereka juga perlu memahami cara mengakses
pelayanan yang diberikan birokrasi kampus secara mudah dan efektif.
Ospek
yang dilakukan dalam bentuk kegiatan akademik ditegaskan dalam Surat Edaran
(SE) Dirjen Dikti. Kegiatan akademik yang dimaksidkan disitu adalah kegiatan
yang bersifat mendidik dan memberi manfaat, Misalnya, pengenalan kampus,
pengenalan dosen staf dan tenaga pengajar lainnya. Juga pengenalan cara kuliah
yang baik. Depdiknas sudah menyatakan bahwa ospek dengan semangat perpeloncoran
sudah dihapus dengan SE Dirjen Dikti Nomor 5/1995.
SE itu juga
mengharuskan ospek dilakukan dengan lebih lunak dan dikoordinasikan dengan dibawah
pembantu rektor (Purek) III ditingkat Universitas dan Pembantu Dekan (Pudek) III
ditingkat Fakultas atau Jurusan serta dibawah Pembantu Direktur (Pudir) III ditingkat
Akademik.
Sebagai mahasiswa
yang bermoral, kita harus memandang mahasiswa baru sebagai generasi yang harus
diselamatkan, aqidahnya, ibadahnya, akhlaqnya, dan intelektualitasnya. Bagi
kita, Mahasiswa baru bukanlah sebagai korban baru yang siap dikerjai. Kehadiran
mereka memiliki arti positif bagi kita. Paling tidak ada beberapa point, arti pentingnya
mahasiswa baru, yaitu sebagai berikut : Setiap angkatan baru bisa diibaratkan
sebagai tamu yang berkunjung. Setiap tamu yang datang tentu ativitas pelayanan
pada mahasiswa baru harus digiatkan. Misalnya jika mereka membutuhkan tempat
kost, tunjuki tempat kost, tunjuki tempat kos yang bagus, yang kondusif untuk
tempat tinggal, kondusif untuk belajar, kondusif untuk aqidahnya, ibadahnya dan
akhlaqnya. Tunjuki pula mereka tempat-tempat belajar yang nyaman untuk belajar.
Misalnya laboratorium, perpustakaan, acara-acara seminar yang kita adakan, dan
sebagainya, dan sebagainya. Masih banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk
mereka. Intinya, berikan mereka service yang menarik dan mengugah jiwa agar
mereka merasa at home dan nyaman. Selain itu berikan dorongan semangat,
motivasi, petunjuk, arahan dan berbagai kemudahan lainya.







0 komentar:
Posting Komentar