Sebetulnya kalau
dipikir-pikir buat apa sih kita marah ? Pena taqdir telah kering. Lembar-lembar
catatan taqdir juga telah ditutup. Semua kejadian dikehidupan ini sudah
ditentukan oleh Allah. Dan semua ketetapan Allah adalah kebaikan bagi seluruh
Mahluk-Nya. Kondisi yang sesuai dengan keinginan kita itu terjadi atas kehendak
Allah. Begitupula, kondisi yang tidak sesuai dengan keinginn kita juga terjadi
atas kehendak Allah. Kalau kita marah, walaupun sedetik otomatis satu detik tersebut tidk kita
gunakan untuk beribadah kepada Allah. Berarti kita sudah menyia-nyiakan waktu
sebagai nikmat Allah.
Punya anak bandel,
Tidak perlu marah-marah. Buat apa marah? Anak adalah mahluk Allah yang lengkap
dengan taqdirnya. Kesolihan maupun kenakalan anak itu juga taqdir dari Allah.
Tapi ingat, sebuah itu terjadi atas suatu sebab perantara. Kesholihan anak itu
taqdir yang terjadi atas sebab pendidikan mulia yang diberikan orang tuanya. Demikian
juga anak itu taqdir yang telah terjadi
atas sebab pendidikan yang tidak islami. Maka sebagai orang tua,
menghadapi kenakalan anak bukan dengan marah-marah, tapi dengan kesabaran, doa,
teladan, dan pendidikan kemuliaan berbasis islam.
Punya gadget sering
trouble, tidak perlu marah-marah. Buat apa marah? Gadget trouble terjadi bukan dengan sendirinya. bisa jadi oleh
sebab kemalasan kita merawatnya, ketidaktauan kita tentang mengatasi trouble
itu, atau juga keengganan kita mempelajarinya lantas mencari solusi. Gadged trouble tidak akan berubah jadi
normal dengan marah-marah, tapi dengan kearifan dan ketrampilan. Walau kita
marah-marah hingga membantingnya sampai hancur berkeping-keping, tetap tidak
akan selesai urusanya. Marah-marah itu perbuatan sia-sia. Perbuatan sia-sia
dilarang oleh islam.
Jalanan macet,
pengendara ugal-ugalan, disrempet mobil, kaca spion pecah, cat body tergores.
Tidak perlu marah-marah. Buat apa marah ? Jalanan macet bisa jadi salah kita
sendiri. Ada pengendara motor ugal-ugalan bisa jadi karena kita tidak mau mengajarkan
prinsip akhlaq mulia. Disrempet mobil bisa jadi karena dia baru belajar,
mengantuk, matanya rabun, remnya blong,. Pokoknya, cari seribu alasan yag
membuat kita tidak marah-marah.
Tidak bisa khusyu’
dalam sholat, tidak perlu marah-marah. Buat apa marah ? Seharusnya sedih. Tidak
bisa khusyu’ itu berarti ada yang salah pada kebiasaan dan keseharian kita.
Marah-marah tiak menjadikan kita khusyu’, malah menambah tidak khusyu’.
Musahabah diri dan selalu lakuakan perbaikan.
Masyarakat sekitar
gemar lakukan Syirik, Zina, mencuri, korupsi, minum khomr, judi, ghibah,
zholim. Tidak perlu marah-marah? marah-marah tidak menjadikan penyakit di
masyarakat hilang. Da’i tidak harus marah-marah untuk menghentikan kebiasaan
buruk semacam itu. Harus sejuk, tenang, penuh hikmah dan dengan qolbu yang
jernih serta aklaq yang mulia. Nabi memberantas kejahiliyyaan tidak dengan
anarkisme.
Semua adalah taqdir
Allah. Kewajiban kita hanya berusaha yang terbaik yang disukai dan dicintai
Allah . Takdir yang tidak sesuai keinginan kita sejatinya adalah ujian
kesabaran. tidak sabar menghadapi taqdir buruk, berarti kita telah membatasi
kebaikan dari Allah sebab Allah memberikan kebaikan yang tak terbatas bagi
orang-orang yang sabar atas takdir-Nya.
Marah bersumber
dari kerasnya watak dan hilangnya kelemahlembutan (Rifq, hiim) dan kasih
sayang. Marah tidak menghasilkan amal sholih, padahal kita hidup ini kewajibanya
adalah beramal sholih. Artinya, marah itu menghambat datangnya kebaikan. ibnu
Rajab Al-Hambali mengatakan, “Marah itu kunci kejelekan dan menahan dari marah itu kunci seluruh amal
kebaikan.” [Jami’ul ‘ulum wal Hikam 1/362].
Jangan
marah, itu saja
Dari Abu Hurairah, ada seseorang datang menemui Nabi
SAW seraya berkata. “Wahain Rosullullah berilah aku wasiat.” Maka Rosullulloa
berkata, “Jangan marah!” beliau
mengulanginya berkali-kali.” (Shohih Bukhori no.6116).
Dari Abdulloh bin Amr, ia bertanya kepada
Rosululloh,”Wahai Rosulloh amalan apa yang dapat menjauhkan aku dari kemarahan
Allah?” Beliau menjawab: “Jangan marah!”
(Musnad Ahmad 2/175.Shohibut Targhib no.2747).
Marah itu naluri
Namun dari sini
jangan sampai ada yang berpikiran, marah itu sama sekali terlarang secara
mutlak. Tidak. Ibnu Hajar Asy-Syafii berkata, “Hakekat marah tidaklah dilarang
karena merupakan perkara tabiat yang tidak bisa hilang dari perilaku kebiasaan
manuasia.” (Fat-h Al-Bari 10/520).
Yang terlarang
adalah melampiaskan marah, yang itu bisa memicu keburukan dan kerusakan. Marah
adalah naluri manusia ketika mendapati kondisitak sesuai keinginannya. Kita
tadak akan mampu menghilangkan marah seluruhnya dari qolbu kita. Oleh karena
itu kita tidak di tuntut. Marah adakalanya dibutuhkn, yaitu ketika ada musuh
Allah yang menyerang Islam dan kaum muslimin.
Rosulullah Muhammad
SAW berkata: “Barangsiapa menahan amarahnya, padahal dia sanggup untuk
melampiaskannya, maka kelak Allah SWT memanggilnya di hadapan makluk, sehingga
Dia menyuruhnyanya memilih bidadari mana saja yang di inginkan.”(Hasan: Shohibul Jami’ no. 6145, 6522;
Silsilah Ahaditsush Shohihah no 718).
Apa yang di
ungkapkan Nabi ini menjadi bukti bukti, marah tidak bisa sihilangkan total.
yang anda harus dihilangkan adalah pelampiasan marah padahal kita mampu apalagi
kita berada pada posisi tak bersalah, maka Allah memuliakan kita
di hadapan seluruh mhluq-Nya.
Alloh telah
menjanjikan pahala yang jauh lebih besar lagi. Dari ‘Abdullah bin Umar, Nabi
berkata, “Tidak ada (pahala atas luka)
yang lebih besar di sisi Allah di
bandingkan dengan luka kemarahan yang disembunyikan oleh seorang hambadalam
rangka mengharap wajah ALLAH.”
Mempermalukan setan
Menahan
marah adalah bukti kekuatan sejati. Kekuatan fisik untuk mengangkat sekian ton
memang kekuatan. Tapi kekuatan sejati adalah kekuatan menahan marah.
Dari Abdullah, Ia berkata, Rosulullah Saw bertanya,”Siapakah orang yang kalian anggap paling
kuat diantara kalian?” Orang-orang menjawab ;”(Orang kuat adalah ) orang
yang mampu mengalahkan sejumlah orang lain.” Beliau menjawab, “Tidak! Orang kuat adalah orang yang dapat
menahan diri ketika marah.”(Shohih
Sunan Abu Dawud no.4779;Muslim8/30).
Dari Anas
bin Malik, Rosulluloh melewati suatu kaum yang sedang mengangkat sebuah batu.
Beliau bertanya;”Apa yang mereka lakukan ?”Orang-orang
menjawab: “Mereka sedang mengangkat batu
karena ingin mennunjukan kekuatan.” Maka nabi berkata; “ Maukah aku tunjukan kepada kalian orang yang
lebih kuat darinya ? Yaitu orang yang mampu menguaai dirinya ketika marah.” Dalam
riayat lain disebutkan, Nabi SAW melewati sauatu kaum yang sedang bergulat.
Beliau bertanya: “Ada apa ini?” Orang-orang menjawab: “Ini si Fulan yang jago
gulat, Tidaklah di bergulat dengan seseorang kecuali dia bisa mengalahkannya. ”Maukah aku tunjukan orang yang lebih kuat
darinya? Yaitu orang yang dizolimi oleh orang lain namun dia menahan amarahny,
berarti dia telah mengalahkan orang yang menzoliminya dan mengalahkan setan
yang menyertainya, dan juga mengalahkan setan yang menyertai temannya (yaitu
orang yang menzoliminya)”. (Musnad
Al-Bazzar 2/438-439 no. 2035. Hasan dalam Silsilah Ahaditsush Sholihah no.3295).







0 komentar:
Posting Komentar