Diberdayakan oleh Blogger.

anda pengunjung ke

RSS
Container Icon

Buat apa marah ?



Sebetulnya kalau dipikir-pikir buat apa sih kita marah ? Pena taqdir telah kering. Lembar-lembar catatan taqdir juga telah ditutup. Semua kejadian dikehidupan ini sudah ditentukan oleh Allah. Dan semua  ketetapan Allah adalah kebaikan bagi seluruh Mahluk-Nya. Kondisi yang sesuai dengan keinginan kita itu terjadi atas kehendak Allah. Begitupula, kondisi yang tidak sesuai dengan keinginn kita juga terjadi atas kehendak Allah. Kalau kita marah, walaupun sedetik  otomatis satu detik tersebut tidk kita gunakan untuk beribadah kepada Allah. Berarti kita sudah menyia-nyiakan waktu sebagai nikmat Allah.
Punya anak bandel, Tidak perlu marah-marah. Buat apa marah? Anak adalah mahluk Allah yang lengkap dengan taqdirnya. Kesolihan maupun kenakalan anak itu juga taqdir dari Allah. Tapi ingat, sebuah itu terjadi atas suatu sebab perantara. Kesholihan anak itu taqdir yang terjadi atas sebab pendidikan mulia yang diberikan orang tuanya. Demikian juga anak itu taqdir yang telah terjadi  atas sebab pendidikan yang tidak islami. Maka sebagai orang tua, menghadapi kenakalan anak bukan dengan marah-marah, tapi dengan kesabaran, doa, teladan, dan pendidikan kemuliaan berbasis islam.
Punya gadget sering trouble, tidak perlu marah-marah. Buat apa marah? Gadget trouble terjadi bukan dengan sendirinya. bisa jadi oleh sebab kemalasan kita merawatnya, ketidaktauan kita tentang mengatasi trouble itu, atau juga keengganan kita mempelajarinya lantas mencari solusi. Gadged trouble tidak akan berubah jadi normal dengan marah-marah, tapi dengan kearifan dan ketrampilan. Walau kita marah-marah hingga membantingnya sampai hancur berkeping-keping, tetap tidak akan selesai urusanya. Marah-marah itu perbuatan sia-sia. Perbuatan sia-sia dilarang oleh islam.
Jalanan macet, pengendara ugal-ugalan, disrempet mobil, kaca spion pecah, cat body tergores. Tidak perlu marah-marah. Buat apa marah ? Jalanan macet bisa jadi salah kita sendiri. Ada pengendara motor ugal-ugalan bisa jadi karena kita tidak mau mengajarkan prinsip akhlaq mulia. Disrempet mobil bisa jadi karena dia baru belajar, mengantuk, matanya rabun, remnya blong,. Pokoknya, cari seribu alasan yag membuat kita tidak marah-marah.
Tidak bisa khusyu’ dalam sholat, tidak perlu marah-marah. Buat apa marah ? Seharusnya sedih. Tidak bisa khusyu’ itu berarti ada yang salah pada kebiasaan dan keseharian kita. Marah-marah tiak menjadikan kita khusyu’, malah menambah tidak khusyu’. Musahabah diri dan selalu lakuakan perbaikan.
Masyarakat sekitar gemar lakukan Syirik, Zina, mencuri, korupsi, minum khomr, judi, ghibah, zholim. Tidak perlu marah-marah? marah-marah tidak menjadikan penyakit di masyarakat hilang. Da’i tidak harus marah-marah untuk menghentikan kebiasaan buruk semacam itu. Harus sejuk, tenang, penuh hikmah dan dengan qolbu yang jernih serta aklaq yang mulia. Nabi memberantas kejahiliyyaan tidak dengan anarkisme.
Semua adalah taqdir Allah. Kewajiban kita hanya berusaha yang terbaik yang disukai dan dicintai Allah . Takdir yang tidak sesuai keinginan kita sejatinya adalah ujian kesabaran. tidak sabar menghadapi taqdir buruk, berarti kita telah membatasi kebaikan dari Allah sebab Allah memberikan kebaikan yang tak terbatas bagi orang-orang yang sabar atas takdir-Nya.
Marah bersumber dari kerasnya watak dan hilangnya kelemahlembutan (Rifq, hiim) dan kasih sayang. Marah tidak menghasilkan amal sholih, padahal kita hidup ini kewajibanya adalah beramal sholih. Artinya, marah itu menghambat datangnya kebaikan. ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan, “Marah itu kunci kejelekan  dan menahan dari marah itu kunci seluruh amal kebaikan.” [Jami’ul ‘ulum wal Hikam 1/362].
Jangan marah, itu saja
Dari Abu Hurairah, ada seseorang datang menemui Nabi SAW seraya berkata. “Wahain Rosullullah berilah aku wasiat.” Maka Rosullulloa berkata, “Jangan marah!” beliau mengulanginya berkali-kali.” (Shohih Bukhori no.6116).
Dari Abdulloh bin Amr, ia bertanya kepada Rosululloh,”Wahai Rosulloh amalan apa yang dapat menjauhkan aku dari kemarahan Allah?” Beliau menjawab: “Jangan marah!” (Musnad Ahmad 2/175.Shohibut Targhib no.2747).
Marah itu naluri                          
Namun dari sini jangan sampai ada yang berpikiran, marah itu sama sekali terlarang secara mutlak. Tidak. Ibnu Hajar Asy-Syafii berkata, “Hakekat marah tidaklah dilarang karena merupakan perkara tabiat yang tidak bisa hilang dari perilaku kebiasaan manuasia.” (Fat-h Al-Bari 10/520).
Yang terlarang adalah melampiaskan marah, yang itu bisa memicu keburukan dan kerusakan. Marah adalah naluri manusia ketika mendapati kondisitak sesuai keinginannya. Kita tadak akan mampu menghilangkan marah seluruhnya dari qolbu kita. Oleh karena itu kita tidak di tuntut. Marah adakalanya dibutuhkn, yaitu ketika ada musuh Allah yang menyerang Islam dan kaum muslimin.
Rosulullah Muhammad SAW berkata: “Barangsiapa menahan amarahnya, padahal dia sanggup untuk melampiaskannya, maka kelak Allah SWT memanggilnya di hadapan makluk, sehingga Dia menyuruhnyanya memilih bidadari mana saja yang di inginkan.”(Hasan: Shohibul Jami’ no. 6145, 6522; Silsilah Ahaditsush Shohihah no 718).
Apa yang di ungkapkan Nabi ini menjadi bukti bukti, marah tidak bisa sihilangkan total. yang anda harus dihilangkan adalah pelampiasan marah padahal kita mampu apalagi kita berada pada posisi tak bersalah, maka Allah memuliakan  kita  di hadapan seluruh mhluq-Nya.
Alloh telah menjanjikan pahala yang jauh lebih besar lagi. Dari ‘Abdullah bin Umar, Nabi berkata, “Tidak ada (pahala atas luka) yang lebih besar di sisi Allah  di bandingkan dengan luka kemarahan yang disembunyikan oleh seorang hambadalam rangka mengharap wajah ALLAH.”
Mempermalukan setan
            Menahan marah adalah bukti kekuatan sejati. Kekuatan fisik untuk mengangkat sekian ton memang kekuatan. Tapi kekuatan sejati adalah kekuatan menahan marah.
Dari Abdullah, Ia berkata, Rosulullah Saw bertanya,”Siapakah orang yang kalian anggap paling kuat diantara kalian?” Orang-orang menjawab ;”(Orang kuat adalah ) orang yang mampu mengalahkan sejumlah orang lain.” Beliau menjawab, “Tidak! Orang kuat adalah orang yang dapat menahan diri ketika marah.”(Shohih Sunan Abu Dawud no.4779;Muslim8/30).
            Dari Anas bin Malik, Rosulluloh melewati suatu kaum yang sedang mengangkat sebuah batu. Beliau bertanya;”Apa yang mereka lakukan ?”Orang-orang menjawab: “Mereka sedang mengangkat batu  karena ingin mennunjukan kekuatan.” Maka nabi berkata; “ Maukah aku tunjukan kepada kalian orang yang lebih kuat darinya ? Yaitu orang yang mampu menguaai dirinya ketika marah.” Dalam riayat lain disebutkan, Nabi SAW melewati sauatu kaum yang sedang bergulat. Beliau bertanya: “Ada apa ini?” Orang-orang menjawab: “Ini si Fulan yang jago gulat, Tidaklah di bergulat dengan seseorang kecuali dia bisa mengalahkannya. ”Maukah aku tunjukan orang yang lebih kuat darinya? Yaitu orang yang dizolimi oleh orang lain namun dia menahan amarahny, berarti dia telah mengalahkan orang yang menzoliminya dan mengalahkan setan yang menyertainya, dan juga mengalahkan setan yang menyertai temannya (yaitu orang yang menzoliminya)”. (Musnad Al-Bazzar 2/438-439 no. 2035. Hasan dalam Silsilah Ahaditsush Sholihah no.3295).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar: