Makalah
SIANIDA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Ekotoksikologi
Disusun Oleh :
1. Diah Nur Isnaeni ( P07133110050)
2. Dian Kusumasari (
P07133110051)
3. Irwan
Fitriyanto ( P07133110064)
4. Linda
Anggraeni P. ( P07133110071)
5. Okvendri
Abrihari ( P07133110079)
6. Pratiwi
Anggun ( P07133110080)
7. Santi
Astuti ( P07133110086)
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK
KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN
KESEHATAN LINGKUNGAN
2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga tugas makalah ini
dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini terwujud atas bimbingan, saran dan bantuan
dari berbagai pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, dan pada
kesempatan ini saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada:
1.
DR. Hj. Lucky Herawati, SKM. MSc. selaku Direktur Poltekkes
Kemenkes Yogyakarta.
2.
Tuntas Bagyono, SKM, M.Kes selaku Ketua Jurusan Kesehatan
Lingkungan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
3.
Haryono, SKM, MKes selaku pengampu mata kuliah Ekotoksikologi
4.
Teman-teman yang membantu terselesaikan
makalah ini.
Akhir kata saya
menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan maka dari itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan makalah ini, dan semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.
Yogyakarta, Oktober 2011
Penyusun
BAB I
Pendahuluan
A.
Latar belakang
Wilayah Indonesia meliputi banyak kepulauan sehingga berpotensi besar untuk memperluas
hasil pertanian dari berbagai jenis bahan pangan. Salah satu jenis
tanaman pangan yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan oleh petani
diwilayah Indonesia adalah
singkong atau lebih dikenal dengan ubi kayu. Singkong atau ubi kayu merupakankomoditas pertanian yang bermultifungsi. Singkong
telah cukup lama dikenal olehmasyarakat kita bahkan masyarakat dunia. Sebagai
tanaman yang cukup potensial,tentunya
singkong sudah sepatutnya untuk dikembangkan. Hasilnya selain dapat digunakan sebagai penganekaragaman menu rakyat,
juga mempunyai prospek yang penting sebagai bahan dasar industri.
(Lingga Pinus, 1992, Rukmana.H.Rahmat,1997). Singkong (Manihot esculenta crant ) merupakan tanaman yang berasal dari
Brazil yang juga sering disebut sebagai
ketela pohon dan di Indonesia disebut ubi kayu.Menurut salah seorang ahli tumbuhan, Ramphius singkong masuk ke
Indonesia sekitar abad 17
tetapi masih terbatas sebagai tanaman pekarangan saja, namun saat ini penyebarannya
sudah meluas dan hasilnya melimpah, walaupun dibeberapa tempat
tidak dibarengi dengan penanganan yang serius. (Lingga Pinus, 1992)
Singkong
banyak tumbuh di daerah tropis dan merupakan salah satu bahan pangan
sumber karbohidrat yang disukai masyarakat dengan berbagai macam
olahannya.Bagian ubi kayu yang umum digunakan sebagai bahan makanan adalah
ubinya dan daun-daun muda (pucuk). Daun ubi kayu mempunyai susunan berurat menjari dengan jumlah 5-9 helai. Daun muda (pucuk) ubi kayu enak dibuat menjadi
berbagai bahan olahan karena
kandungan gizi pucuk ubi ternyata sangat tinggi. Dalam tiap 100 gram pucuk ubi mengandung 73 kal Kalori,;6,8 gr Protein; 1,2 gr
Lemak;13,0 gr Karbohidrat, 165 mgKalsium, 54 mg Fosfor, 2,0 mg Zat besi, 11.000
SI Vitamin A, 0,12 mg Vitamin B1,275,00
mg Vitamin C, 77,2 gr Air, dari bagian yang dapat dimakan (bdd) 87%.(Rukmana.H.Rahmat,
1997). Secara umum, dalam berat yang sama
dengan berat telur, berat protein (nabati)yang dikandung oleh daun singkong lebih kurang sama dengan yang
dikandung olehtelur. Hasil penelitian terhadap 150 jenis singkong yang
diteliti, jenis-jenis singkong yangkandungan protein dalam daunnya tergolong
paling rendah, pun masih mengandung lebihdari 60% macam asam amino esensial.
(Johan, daun ketela pohon, 2005)Mengingat
banyaknya kandungan gizi yang terdapat didalam daun ubi tersebutmaka sangat baik untuk dikonsumsi. Namun tumbuhan
yang termasuk kelas Dicotyledonae ini
baik didalam daunnya maupun umbinya mengandung zat glikosidacya-nogenik dimana
zat ini dapat menghasilkan asam sianida (HCN) atau senyawa asam biru
yang sangat bersifat racun. Asam sianida ini bila dikonsumsi pada jumlah besar
akanmengakibatkan kepala pusing, mual, perut
terasa perih, badan gemetar, bahkan bisamengakibatkan pingsan. Bila kadar racun yang dikonsumsi cukup banyak,
selain gejalatersebut, gejala lain yang dapat timbul antara lain mata melotot,
mulut berbusa, kejang,dan sesak napas . (Gultom.P.P.Batunahal,1995,
Johan, 2005)Asam sianida ini tersebar merata
dipermukaan daun hingga dermis dari umbiakar. Kandungan unsur penggangu
yang bersifat racun (HCN) berbeda untuk setiap jenisatau
varietasnya, sehingga sinkong dapat dibedakan
menjadi beberapa kelompok berdasarkan
kandungan asam sianida antara lain golongan yang tidak beracun, golongan beracun
sedikit, golongan beracun, serta golongan sangat beracun. (Johan, 2005). Cara paling aman memasak daun singkong adalah
dengan meremas-remas atau memotong-motong daun singkong sebelum dimasak,
biarkan selama 5-10 menit agar agak layu lalu direbus. Dengan cara tersebut maka akan dapat mengurangi asam
sianida yang terdapat dalam
daun singkong. Cara paling sederhana adalah jangan pernah petik daun
singkong
di siang atau sore hari, karena
pada siang ataupun sore hari hasil fotosintesis sudah berlansung dan mengakibatkan peningkatan asam sianida. (Johan,2005). Asam sianida terbentuk secara enzimatis
dari dua senyawa prekursor (bakal racun),
yaitu linamarin dan mertil linamarin dimana kedua senyawa ini kontak dengan enzim
linamarase dan oksigen dari udara yang merombaknya menjadi glukosa, asetondan
asam sianida. Asam sianida mempunyai sifat mudah larut dan mudah menguap, oleh karena itu untuk menurunkan atau mengurangi kadar asam sianida dapat dilakukan dengan pencucian atau perendaman karena asam sianida akan
larut dan ikut terbuang dengan air.
(kesehatan, Kompas, 2004, Kanisius, 1997)
B.
Rumusan Masalah
1. Apa itu Sianida?
2. Dimana Sianida Ditemukan?
3. Bagaimana Sianida dapat meracuni
manusia?
C.
Manfaat
1. Mengetahui bentuk dari Sianida.
2. Mengetahui makanan yang mengandung
Sianida.
3. Mengetahui bagaimana Sianida dapat
meracuni manusia.
D.
Ruang Lingkup
Disiplin ilmu ekotoksikologi merupakan
disiplin ilmu yang mempelajari tentang racun yang mempengaruhi kesehatan
lingkungan dan atau kesehatan manusia. Ilmu ini mengkaji bahaya dari
bahan-bahan toksik, dalam hal ini sianida. Selain itu, ilmu ini juga
mempelajari tentang mekanisme atau cara masuk toksik ke dalam lingkungan maupun
ke dalam tubuh manusia.
BAB II
Kajian Pustaka
A.
Asam
Sianida
Sianida adalah senyawa kimia
yang mengandung kelompok siano
C≡N, dengan atom
karbon
terikat-tiga
ke atom nitrogen.
Kelompok CN dapat ditemukan dalam banyak senyawa. Beberapa adalah gas, dan
lainnya adalah padat atau cair. Beberapa seperti-garam, beberapa kovalen.
Beberapa molekular, beberapa ionik, dan banyak juga polimerik. Senyawa yang
dapat melepas ion
sianida CN− sangat beracun. Sianida adalah zat beracun yang sangat
mematikan. Sianida telah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu. Efek dari
sianida ini sangat cepat dan dapat mengakibatkan kematian dalam jangka waktu
beberapa menit.
Bentuk-bentuk
sianida bisa berupa :
1. Inorganic cyanide : Hidrogen sianida (HCN)
2. Cyanide salts ( garam sianida) : Potasium sianida (KCN), sodium
1. Inorganic cyanide : Hidrogen sianida (HCN)
2. Cyanide salts ( garam sianida) : Potasium sianida (KCN), sodium
sianida (NaCN), calcium sianida
(Ca(CN)2
3. Metal cyanide (logam sianida) : potasim silver cyanide ( C2AgN2K),
3. Metal cyanide (logam sianida) : potasim silver cyanide ( C2AgN2K),
gold(I) cyanide (AuCN), mercury
cyanide (Hg(CN)2), zinc cyanide
(Zn(CN)2, lead cyanide (Pb(CN)2
4. Metal cyanide salts : sodium cyanourite
5. Cyanogens halides : Cyanogen klorida (CClN),
4. Metal cyanide salts : sodium cyanourite
5. Cyanogens halides : Cyanogen klorida (CClN),
cyanogen
bromide (CBrN)
6. Cyanogens : Cyanogen (CN)2
7. Aliphatic nitriles : Acetonitrile (C2H3N), acrylonitrile
6. Cyanogens : Cyanogen (CN)2
7. Aliphatic nitriles : Acetonitrile (C2H3N), acrylonitrile
(C3H3N),
butyronitrile ( C4H7N),
propionitrile
(C3H5N)
8. Cyanogens glycosides : Amygdalin ( C20H27NO11),
8. Cyanogens glycosides : Amygdalin ( C20H27NO11),
linamarin (C10H17NO6)
Sianida bisa berupa gas berwarna seperti
hydrogen cyanide (HCN) atau cyanogen chloride (CNCl), dapat juga berbentuk
kristal seperti sodium cyanide (NaCN) or potassium cyanide (KCN). Kadang-
kadang sianida berbau seperti “bitter
almond”, tapi sianida tidak selalu berbau, dan tidak semua orang bisa
mendeteksi bau sianida.
Hidrogen sianida disebut juga formonitrile, sedang dalam bentuk cairan dikenal sebagai asam prussit dan asam hidrosianik. Hidrogen sianida pada suhu di bawah 780 F berbentuk cairan tidak berwarna atau dapat juga berwarna biru pucat. Pada suhu yang lebih tinggi berbentuk gas yang tidak berwarna. Bersifat volatile dan mudah terbakar. Hidrogen sianida dapat berdifusi baik dengan udara dan bahan peledak. Hidrogen sianida sangat mudah bercampur dengan air sehingga sering digunakan. Bentuk lain ialah sodium sianida dan potassium sianida yang berbentuk serbuk dan berwarna putih.
Hidrogen sianida disebut juga formonitrile, sedang dalam bentuk cairan dikenal sebagai asam prussit dan asam hidrosianik. Hidrogen sianida pada suhu di bawah 780 F berbentuk cairan tidak berwarna atau dapat juga berwarna biru pucat. Pada suhu yang lebih tinggi berbentuk gas yang tidak berwarna. Bersifat volatile dan mudah terbakar. Hidrogen sianida dapat berdifusi baik dengan udara dan bahan peledak. Hidrogen sianida sangat mudah bercampur dengan air sehingga sering digunakan. Bentuk lain ialah sodium sianida dan potassium sianida yang berbentuk serbuk dan berwarna putih.
B.
Penggunaan
Sianida
Sianida dalam dosis rendah dapat ditemukan di alam dan
ada pada setiap produk yang biasa kita makan atau gunakan. Sianida dapat
diproduksi oleh bakteri, jamur dan ganggang.. Adapun penggunaan sianida adalah:
1. Pada
peindustrian dan pekerjaan
•Pemadam kebakaran
•Industri karet
•Industri plastic
•Industri kulit
•Pertambangan
•Penyepuhan dengan listrik(electroplating)
•Penyepuhan dengan listrik(electroplating)
•Pengelasan
•Petugas laboratorium dan ahli kimia
•Petugas laboratorium dan ahli kimia
•Pekerja yang menggunakan
pestisida
•Pengasapan
•Industri kertas
•Industri kertas
2.
Pada Militer :
Sianida
sebagai komponen yang sangat mematikan digunakan untuk meracuni angota keluarga
kerajaan dan orang-orang yang dianggap dapat mengganggu keamanan. Tidak itu
saja, Napoleon III mengusulkan untuk menggunakan sianida pada bayonet
pasukannya Selama perang dunia pertama, Perancis menggunakan asam hidrosianik
yang berbentuk gas. Tetapi racun sianida yang berbentuk gas ini mempunyai efek
yang kurang mematikan dibandingkan dengan bentuk cairnya.
Jerman
sendiri pada waktu itu telah melengkapi pasukannya dengan masker yang dapat
menyaring gas tersebut. Karena kurang efektifnya penggunaan gas ini, maka pada
tahun 1916 Perancis mencoba jenis sianida gas lainnya yang mempunyai berat
molekul yang lebih berat dari udara, lebih mudah terdispersi dan mempunyai efek
kumulatif. Zat yang digunakan adalah Cyanogen chlorida, yang dibentuk dari
potassium sianida.
Austria
ketika itu juga mengeluarkan gas beracun yang berasal dari potassium sianida
dan bromin. Zat ini kemudian disebut sianogen bromida yang mempunyai efek
iritasi yang sangat kuat pada konjungtiva mata dan pada mukosa saluran
pernafasan. Selama perang dunia ke II, Nazi Jerman menggunakan asam hidrosianik
yang disebut mereka Zyklon B untuk menghabisi ribuan rakyat sipil dan tentara
musuh.
Adapun sianida yang digunakan oleh militer NATO (North American Treaty Organization) adalah yang jenis cair yaitu asam hidrosianik (HCN).
Adapun sianida yang digunakan oleh militer NATO (North American Treaty Organization) adalah yang jenis cair yaitu asam hidrosianik (HCN).
C. Asal Paparan Sianida
1. Inhalasi
Sisa
pembakaran produk sintesis yang mengandung karbon dan nitrogen seperti plastik
akan melepaskan sianida. Rokok juga mengandung sianida, pada perokok pasif
dapat ditemukan sekitar 0.06µg/mL sianida dalam darahnya, sementara pada
perokok aktif ditemukan sekitar 0.17 µg/mL sianida dalam darahnya. Hidrogen
sianida sangat mudah diabsorbsi oleh paru, gejala keracunan dapat timbul dalam
hitungan detik sampai menit. Ambang batas minimal g/ml tetapi angka ini belummhydrogen sianida di udara
adalah 0,02-0,20 dapat memastikan
konsentrasi sianida yang berbahaya bagi orang disekitarnya. Selain itu,
gangguan dari saraf-saraf sensoris pernafasan juga sangat terganggu. Berat
jenis hidrogen sianida lebih ringan dari udara sehingga lebih cepat terbang ke
angkasa.
Anak-anak
yang terpapar hidrogen sianida dengan tingkat yang sama pada orang dewasa akan
terpapar hidrogen sianida yang jauh lebih tinggi.
2. Mata
dan Kulit
Paparan
hidrogen sianida dapat menimbulkan iritasi pada mata dan kulit. Muncul segera
setelah paparan atau paling lambat 30 sampai 60 menit. Kebanyakan kasus
disebabkan kecelakaan pada saat bekerja sehingga cairan sianida kontak dengan
kulit dan meninggalkan luka bakar.
3. Saluran
Pencernaan
Tertelan
dari hidrogen sianida sangat fatal. Karena sianida sangat mudah masuk ke dalam
saluran pencernaan. Tidak perlu melakukan atau merangsang korban untuk muntah,
karena sianida sangat cepat berdifusi dengan jaringan dalam saluran pencernaan.
D. Racun Sianida
Walaupun sianida dapat mengikat dan menginaktifkan
beberapa enzim, tetapi yang mengakibatkan timbulnya kematian atau timbulnya
histotoxic anoxia adalah karena sianida mengikat bagian aktif dari enzim
sitokrom oksidase sehingga akan mengakibatkan terhentinya metabolisme sel
secara aerobik. Sebagai akibatnya hanya dalam waktu beberapa menit akan
mengganggu transmisi neuronal. Sianida dapat di buang melalui beberapa proses
tertentu sebelum sianida berhasil masuk kedalam sel. Proses yang paling
berperan disini adalah pembentukan dari cyanomethemoglobin (CNMetHb), sebagai
hasil dari reaksi antara ion sianida (CN–) dan MetHb.
Selain itu juga, sianida dapat dibuang dengan adanya :
Ø Ikatan
dengan endothelial-derived relaxing factor (EDRF) dalam hal ini adalah asam
nitirit.
Ø Bahan-bahan
metal seperti emas, molibdenum atau komponen organik seperti hidrokobalamin
sangat efektif mengeliminasi sianida dari dalam sel.
Ø Terakhir
kali, albumin dapat merangsang kerja enzim dan menggunakan sulfur untuk
mengikat sianida.
Ø Sianida
dapat dengan mudah menembus dinding sel. Oleh karena itu pihak militer sering
menggunakan racun sianida walaupun secara inhalasi, memakan atau menelan garam
sianida atau senyawa sianogenik lainnya. Karena sianida ini sebenarnya telah
ada di alam walaupun dalam dosis yang rendah, maka tidak heran jika kebanyakan
hewan mempunyai jalur biokimia intrinsik tersendiri untuk mendetoksifikasi ion
sianida ini. Jalur terpenting dari pengeluaran sianida ini adalah dari
pembentukan tiosianat (SCN-) yang diekresikan melalui urin. Tiosianat ini
dibentuk secara langsung sebagai hasil katalisis dari enzim rhodanese dan
secara indirek sebagai reaksi spontan antara sianida dan sulfur persulfida.
E. Toksisitas
Tingkat toksisitas dari sianida
bermacam-macam. Dosis letal dari sianida adalah;
• Asam hidrosianik sekitar 2,500–5,000 mg•min/m3
• Sianogen klorida sekitar 11,000 mg•min/m3.
• Perkiraan dosis intravena 1.0 mg/kg,
• Perkiraan dalam bentuk cairan yang mengiritasi kulit 100 mg/kg.
• Perkiraan dalam bentuk oral 1,52mg/kg
• Ada juga yang melaporkan kematian bisa terjadi pada dosis 200-300 ppm. Dosis 110-135 ppm bisa mengakibatkan kefatalan setelah terpapar 30-60 menit, sedangkan pada konsentrasi 45-54 ppm sianida masih bisa ditoleransi oleh tubuh.
• Asam hidrosianik sekitar 2,500–5,000 mg•min/m3
• Sianogen klorida sekitar 11,000 mg•min/m3.
• Perkiraan dosis intravena 1.0 mg/kg,
• Perkiraan dalam bentuk cairan yang mengiritasi kulit 100 mg/kg.
• Perkiraan dalam bentuk oral 1,52mg/kg
• Ada juga yang melaporkan kematian bisa terjadi pada dosis 200-300 ppm. Dosis 110-135 ppm bisa mengakibatkan kefatalan setelah terpapar 30-60 menit, sedangkan pada konsentrasi 45-54 ppm sianida masih bisa ditoleransi oleh tubuh.
F. Keracunan Sianida
Tanda
awal dari keracunan sianida adalah;
•Hiperpnea
sementara,
•Nyeri
kepala,
•Dispnea
•Kecemasan
•Perubahan
perilaku seperti agitasi dan gelisah
•
Berkeringat banyak, warna kulit kemerahan, tubuh terasa lemah dan
vertigo juga dapat muncul.
Tanda akhir sebagai ciri adanya penekanan terhadap CNS
adalah koma dan dilatasi pupil, tremor, aritmia, kejang-kejang, koma penekanan
pada pusat pernafasan, gagal nafas sampai henti jantung, tetapi gejala ini
tidak spesifik bagi mereka yang keracunan sianida sehingga menyulitkan
penyelidikan apabila penderita tidak mempunyai riwayat terpapar sianida.
Karena efek racun dari sianida adalah memblok pengambilan
dan penggunaan dari oksigen, maka akan didapatkan rendahnya kadar oksigen dalam
jaringan. Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat warna merah terang pada
arteri dan vena retina karena rendahnya penghantaran oksigen untuk jaringan.
Peningkatan kadar oksigen pada pembuluh darah vena akan mengakibatkan timbulnya
warna kulit seperti “cherry-red”,
tetapi tanda ini tidak selalu ada
BAB
III
Kesimpulan
dan Saran
Sianida adalah senyawa kimia yang mengandung kelompok siano C≡N, dengan atom karbon terikat-tiga ke atom nitrogen. Sianida bisa berupa gas berwarna seperti hydrogen cyanide (HCN) atau cyanogen chloride (CNCl), dapat juga berbentuk kristal seperti sodium cyanide (NaCN) or potassium cyanide (KCN). Racun sianida mengakibatkan timbulnya kematian atau timbulnya histotoxic anoxia dan mengganggu transmisi neuronal. Tanda awal dari keracunan sianida adalah; Hiperpnea sementara, Nyeri kepala, Dispnea, Kecemasan, Perubahan perilaku seperti agitasi dan gelisah, Berkeringat banyak, warna kulit kemerahan, tubuh terasa lemah dan vertigo juga dapat muncul.
B.
Saran
Untuk menghindari
keracunan sianida perlu adanya alat perlindungan diri seperti pemakaian masker untuk
melindungi penafasan, pelindung mata agar mata tidak mengalami iritasi dan
tidak memakan bahan makanan yang diduga mengandung sianida. Makalah ini dibuat
supaya masyarakat umum tahu tentang bahaya sianida, untuk itu makalah ini perlu
diperbanyak atau disosialisasikan kepada masyarakat umum.
Daftar Pustaka







0 komentar:
Posting Komentar